Sekitar tahun 1982 ketika baru lulus dari Curug, kita berempat (Saya , Emmutto, Didik Kiswianto dan Agatha Asri Herini) ditempatkan di Bandar Udara Kemayoran-Jakarta. Namanya juga wong ndesa, begitu melihat peralatan di Gedung Operasi (sekarang menjadi Hotel NAM) terbengong-bengonglah kita akan komplitnya peralatan waktu itu.Pesawat Telepon.
Di Briefing Office waktu itu ada 5 line telpon berjajar-jajar, masih menggunakan sistim direct line ke masing-masing unit; 1) ke Tower 2) ke Public Information 3) ke ATS unit lainnya 4) keluar 5) ke Teknisi. Pada mulanya sangat sulit untuk membedakan bunyi telpon antara satu dengan yang lainnya, akibatnya bila ada telpon bunyi…krrringgg! bingung juga menebak telpon yang mana, apalagi kalau yang bunyi 2 atau 3 telpon secara bersamaan. Namun lama-kelamaan kita jadi hapal dengan bunyi masing-masing telpon.
Mesin Duplikator
Notam Office waktu itu masih dititipkan di PN Angkasa Pura, letaknya disebelah Briefing Office (ada pintu yang menghubungkannya). Kalau ada NOTAM yang perlu untuk Pre-Flight Briefing (saat itu kita belum berani untuk mengatakan PIB) maka satu persatu NOTAM tersebut diketik dengan kertas stensil , setelah itu diproses dengan memutar (direkam) dengan mesin DUPLO dengan dilumuri tinta (tintanya lengket hitam) sehingga menghasilkan duplikat seberapa banyak yang kita inginkan , kertas yang dipakai adalah kertas merang (warnanya kekuningan, kalau kena air tintanya mblobor dan mudah sobek). Sehabis nyetensil (begitu proses membuat cikal bakal PIB disebut) tidak jarang tangan berlepotan tinta hitam. Kalau pas memutar mesin Duplo, suaranya glodak…glodak…glodak…ser…ser…ser…diujungnya keluar kertas-kertas hasil stensil berisi NOTAM yang siap untuk dibagikan ke Airlines. Sampai dengan tahun 1987 ketika kita sudah pindah ke Soekarno-Hatta mesin Duplo ini masih dipakai. Setelah itu baru ada Mesin Fotokopi Modern.
Catatan:
1. Emmutto sekarang PTO AIS di Halim PK – Jakarta.
2. Didik Kiswianto sekarang Junior Manager di Lasmo Oil Co. – Riau.
3. Agatha Asri Herini sekarang Supervisor di Navigasi Garuda Indonesia- Jakarta.
4. Saya masih sebagai Budiono Richwan.
C’est La Vie !
