Wednesday, February 25, 2009

Paradox Kebahagiaan

The Older We Get, the Happier We AreWe may get creaky and cranky as we get older, but we can be happier than we were when we were young. So says Peter A. Ubel and other researchers at the University of Michigan, Ann Arbor.

Banyak artikel yang menyimpulkan bahwa semakin tua semakin bahagia. Pada umumnya orang beranggapan semakin tua semakin sengsara, mudah sakit, penghasilan berkurang sementara pengeluaran bertambah dsb… yang menyebabkan kurang bahagia. Tidak!!, ternyata banyak riset yang membuktikan sebaliknya : semakin tua semakin bahagia. Kebahagiaan tidak ada relevansinya dengan kekayaan (wealth) dan kesehatan (health). Kebahagiaan itu ada didalam pikiran dan hati ( in the state of mind/heart).
Apa sebab semakin tua semakin bahagia ?
Bahagia, menurut para ahli ada yang bersifat Genetis. Orang yang pada dasarnya gampang bahagia, meskipun hidupnya sengsara dan dimarginalkan tetap saja bahagia. Sebaliknya orang yang pada dasarnya sulit untuk bahagia, walaupun hidup penuh kesejahteraan dan sehat wal afiat, tetap saja merasa tidak bahagia.

Komponen utama rasa bahagia adalah dari (1) having what we want, dan (2) wanting what we have. (1) having what we want = memiliki apa yang diinginkan. rumusnya = rasio yang dapat dicapai (= having=H) dibagi dengan total keinginan (=want=W).

Bahagia = H/W.

Ketika kita muda, banyak sekali keinginan yang akibatnya angka W menjadi besar. Yang dapat dicapai H Cuma sedikit, akibatnya index kebahagiaan = H/W menjadi kecil. Ketika muda hidup penuh dengan frustasi dan kekecewaan karena index kebahagiaan jeblok!. Semakin tambah usia bertambah bijaksana, semakin tepat untuk menetapkan keinginan (W) dan semakin paham (H) mana yang dapat diraih. Semakin tua bukan semakin banyak yang ingin dicapai tetapi semakin tepat dalam menentukan apa yang dapat dicapai, oleh karena itu rasio atau index kebahagiaan H/W bertambah baik.
(2) wanting what we have = menikmati apa yang dipunyai. Ketika muda kita mengalami eskalasi; pada saat berhasil mencapai keinginan, maka keinginan akan menjadi bertambah. Tadinya ingin Kijang Innova lantas kepengin sedan BMW. Ketika keinginan bertambah, maka apa yang kita punya menjadi kurang dapat dinikmati. Bukan mensyukuri apa yang dipunyai, malahan mengejar yang belum tentu dapat dicapai. Untuk mengejar musti memakan waktu, waktu habis untuk mengejar…semakin tidak bisa memanfaatkan yang dipunyai. Mengejar kebahagiaan dengan bersusah payah dan sengsara untuk mencapai bahagia…tidak habis-habisnya. Itulah yang disebut dengan Paradox Kebahagiaan.

No comments: