Friday, December 22, 2006

AERONAUTICAL CARTOGRAPHY

PERANAN KARTOGRAFI TERHADAP KESELAMATAN PENERBANGAN
"Seni untuk memproduksi Aeronautical Chart disebut dengan Aeronautical Cartography"

I. Pendahuluan

Kartografi adalah unit dibawah Divisi Pelayanan BOP & Rangtika dilingkungan Bidang Pelayanan Operasi Lalu Lintas Udara , Bandar Udara Intl Soekarno-Hatta yang tugas utamanya adalah:

§ Mengumpulkan dan mengolah data dan informasi aeronautika yang valid untuk dibuat menjadi peta Air Traffic Service (ATS) Indonesia.

§ Membuat peta-peta navigasi udara sebagai draft AIP Amandment, AIP Supplement dan bahan rapat lainnya.

§ Mengamandir setiap perubahan peta-peta ATS berdasarkan pada sumber data dan informasi aeronautika yang masuk ( NOTAM, AIP Supplement, AIC dll ).

§ Menyiapkan/membuat peta untuk melengkapi informasi yang penting yang berkaitan dengan penggunaan ruang udara ( Danger, Prohibited dan Restricted Area serta Air Exercise), sebagai informasi grafis dalam Pre-Flight Information Bulletin.

Kartografi secara tehnis dan ilmu pengetahuan adalah tehnik yang berhubungan dengan pembuatan peta berdasarkan data geografis. Kemajuan IPTEK dewasa ini sudah sedemikian maju pesat, demikian juga dengan kemajuan teknologi informasi yang berkaitan dengan Kartografi ( aeronautical cartography ). Sungguh sangat disayangkan jika kartografi dianggap hanya sebagai pelengkap saja, padahal kita semua tahu bahwa : “ gambar / grafik lebih mudah dimengerti dan lebih jelas dari pada text saja “.

Berikut adalah pernyataan yamg dilansir dari National Aeronautical Cartography Office – FAA

Use of obsolete charts or publications for navigation may be dangerous.
Aeronautical information changes rapidly, and it is vitally important that pilots check the effective dates on each aeronautical chart and publication to be used. Obsolete charts and publications should be discarded and replaced by current editions. To make certain a chart or publication is currect, refer to the next scheduled edition date printed on the cover or consult the Dates of Lates Editions. Pilot should also consult the aeronautical chart bulletin available on line or contained in an Airport / Facility directory and NOTAM for changes, essential for the safety of flight.

Oleh karena itu melalui tulisan ini kami berharap paradigma bahwa : Aeronautical Cartography hanya sebagai pelengkap dalam kontribusinya terhadap keselamatan penerbangan, dapat dirubah menjadi : Aeronautical Cartography ikut serta berperan terhadap terselenggaranya keselamatan penerbangan.


II. Bahan Pertimbangan.
Aeronautical Information Publication (AIP) Indonesia Part Gen 3.2 aeronautical charts, menyebutkan bahwa peta-peta yang dipublikasi pada AIP diproduksi berdasarkan ketentuan yang terdapat pada Doc.ICAO Annex 4 ( Aeronautical Chart), Doc8168.OPS/611 ( Aircraft Operation Vol II ), Doc8697-AN/889 ( Aeronautical Chart Manual ). Tetapi aeronautical charts yang tersedia pada AIP tidak selalu dengan cepat dapat di maintain up to-date oleh karena keterbatasan-keterbatasan tertentu. Padahal informasi aeronautika sifatnya sangat dinamis dan sering / cepat mengalami perubahan dan/atau penambahan. Hal tersebut diatas sangat berhubungan erat dengan masalah maintenance of charts agar tetap up to-date dalam kaitannya dengan keselamatan penerbangan.

Keselamatan Penerbangan bukan hanya tanggung jawab Pemerintah c/q Direktorat Jenderal Perhubungan Udara saja, tetapi tanggung jawab semua komunitas penerbangan. PT.Angkasa Pura II sebagai pengelola bandara bandara di kawasan barat Indonesia sudah selayaknya ikut berpartisipasi aktif dalam hal Keselamatan Penerbangan. Melalui unit Kartografi hal tersebut dapat dilaksanakan sepanjang ditunjang dengan sarana, peralatan dan sumber daya manusia yang handal. Jika pengadaan aeronautifal charts dapat diandalkan ketepatannya dan up to-date, hal tersebut akan sangat memudahkan personil ATS dalam melaksanakan tugasnya. Oeh karena kebutuhan AP II ( khususnya ATS Unit ) akan peta tidak semua tersedia pada AIP Indonesia, juga untuk membantu pemenrintah dalam penerbitan draft AIP Amandment, AIP Supplement dan bahan rapat lainnya, maka sudah seharusnya unit kartografi di revitalisasi.

III. Keadaan Kartografi Sekarang.

Sarana / Peralatan.
Kondisi sarana / peralatan kartografi yang ada sekarang masih manual dan usianya sudah tua ; meja gambar, kertas kalkir, jangka/busur derajad/ruler, rotring pens, stabilo boss, pensil dan penghapus sudah harus masuk gudang/museum karena komputerisasi kartografi sudah bukan barang baru lagi pada saat ini.

Sumber Daya Manusia.
Personil kartografi definitif yang ada sekarang : nihil
Untuk mengerjakan tugas sehari-hari terpaksa masih mengandalkan alih tugas personil dari unit Briefing Office. Tugas utama kartografi memerlukan ketekunan dan ketelitian serta sedikit seni yang dalam membuat satu produk peta. Apabila dikerjakan oleh banyak orang dan tidak intens maka hasilnya akan tidak memuaskan. Pendidikan dasar personil Briefing Office yang ditugaskan ke unit Kartografi semuanya sudah lulus D-III/AIS, tetapi pendidikan dasar tersebut belum cukup mengingat kemajuan IPTEK ilmu Kartografi demikian cepat. Diperlukan pengetahuan tambahan dibidang Teknologi Informasi (TI) yang berhubungan dengan aeronautical cartography.

IV. Kartografi Yang Diinginkan.
Tujuan utama disediakannya aeronautical chart adalah untuk mendukung keselamatan, keteraturan dan efisiensi International Air Navigation. Seiring dengan makin bertambahnya kecepatan dan ketinggian pesawat udara modern ditambah lagi dengan makin bertambahnya kepadatan air traffic, maka dibutuhkan ketersediaan aeronautical chart yang tepat dan up-todate. Hal tersebut dapat dicapai dengan dipakainya teknik modern dalam pembuatan aeronautical chart.

Segala usaha yang memungkinkan untuk memproduksi aeronautical chart dengan standar tinggi seperti peta-peta yang diproduksi oleh negara maju harus senantiasa diupayakan. Sarana dan peralatan juga harus disesuaikan dengan perkembangan teknik modern dalam pembuatan aeronautical chart.

Sarana / Peralatan.
Untuk menunjang tersedianya aeronautical chart yang precise dan up-todate diperlukan peralatan sebagai berikut :

§ Software yang berisi program gabungan antara Aeronautical Data dan Ilmu Komputer Pemetaan Informasi.

§ Software tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan PT Angkas Pura II (pada umumnya) dan Bidang Pelayanan Operasi lalu Lintas Udara (pada khususnya) akan tersedianya aeronautical chart yang tepat dan up-todate serta peta-peta lainnya yang diperlukan untuk dinas.

Sumber Daya Manusia.
Agar tugas tugas kartografi dapat dilaksanakan dengan baik dan menghasilkan produk aeronautical charts yang dapat diandalkan diperlukan petugas operasional dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Pendidikan Dasar D-III AIS
2. Mempunyai pengetahuan dasar system database
3. Paham mengoperasikan Microsoft Access, Microsof Office, Autocad Map, Arc Info, Arc View, Arc Map dan Adobe Illustrator.


V. Kesimpulan.

1. Kartografi adalah seni membuat/memproduksi aeronautical charts.

2. Aeronautical Charts yang sudah usang akan membahayakan navigasi udara.

3. Kartografi ikut berperan dalam penyelenggaraan keselamatan, keteraturan dan efisiensi air navigation.

4. Semakin bertambahnya kecepatan/ketinggian dan semakin bertambahnya kepadatan air traffic, maka diperlukan ketersediaan aeronautical chart yang precise dan up-todate.

5. Peralatan manual sudah harus diganti dengan teknik modern dalam bidang aeronautical cartography.

6. Diperlukan sumber daya manusia yang profesional dalam bidang kartografi, untuk itu diperlukan tambahan pengetahuan dalam bidang ilmu komputer pemetaan informasi bagi petugas operasional / AIS officer.

Tangerang, 22 Desember 2006
Budiyono Richwan

No comments: